Jumat, 08 Agustus 2008

Pengelolaan janjang kosong kelapa sawit

7 Agustus 2008

PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN JANJANG KOSONG KELAPA SAWIT
Oleh : Santobri
Dept Riset PT Sarana Inti Pratama
Jl Riau Ujung No 5 Pekanbaru - Riau

Pendahuluan

Janjang kosong kelapa sawit (JJK) merupakan hasil samping dari pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi CPO di Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Setiap ton TBS diolah dihasilkan JJK antar 190 – 240 kg atau 19 – 24 % dari TBS diolah. Karena produksi harian JJK dari suatu PKS cukup banyak maka perlu dikelola dengan baik dan tepat agar tidak menimbulkan masalah baik terhadap operasional PKS maupun terhadap lingkungan.

Ada beberapa cara pengelolaan JJK yang umum dilakukan oleh perusahaan perkebunan, yaitu :
Diaplikasi ke areal tanaman kelapa sawit dalam bentuk JJK segar
Dijadikan Kompos
Diabukan dengan cara dibakar di tungku bakar (incinerator)
dijual ke pihak ke tiga dalam bentuk JJK segar

Aplikasi JJK Segar ke Pertanaman Kelapa Sawit

Aplikasi JJK segar ke areal tanaman kelapa sawit dilakukan dengan berbagai cara yaitu secara mekanis, manual dan kombinasi mekanis dan manual.

Aplikasi JJK secara mekanis dilakukan dengan alat Empty Bunch Spreader (EBS). Aplikasi model dilakukan di gawangan panen. Peralatan yang dieprlukan adal;ah unit EBS, Traktor, alat muat JJK khusus (exavator atau loader), tenaga operator dan tenaga bantu iperator. ( satu alat EBS dibutuhkan satu orang operator dan satu orang kenek). Aplikasi secara mekanis memerlukan areal yang bisa dilalui oleh EBS, baik ditinjau dari kemiringan lereng, drainase, maupun kebersihan ancak (terutama gawangan panen harus bebas dari tunggul).:

Aplikasi JJK secara manual yaitu mengapliaksi JJK ke pertanaman kelapa sawit dengan tenaga manusia. Aplikasi model ini adalah JJK dibawa dari PKS menggunakan dump truk atau trailer dan dituang di pinggir jalan blok (collection road). Selanjutnya JJK di ecer ke dalam blok dengan tenaga manusia. Peralatan yang digunakan biasanya adalah kereta sorong (angkong). JJK diletakan di antara pokok membentuk empat persegi panjang, atau bisa juga diletakan melingkar di luar piringan dengan jumlah/dosis perpokok sesuai anjuran. Peralatan yang diperlukan adalah unit kendaraan (dump truk/trailer), alat muat JJK di PKS (exavator, loader) atau hopper, angkong, gancu dan tenaga pengecer (16 – 18 HK/Ha).

Aplikasi kombinasi mekanis dan manual yaitu kendaraan pengangkut JJK (dump truk atau trailer) masuk ke dalam blok dan menuangkan JJK pada titik-titik pokok yang sudah ditentukan. Selanjutnya JJK didistribusikan dengan tenaga manusia, biasanya JJK diletakan di gawangan mati dalam jumlah tertentu di mana setiap titik aplikasi untuk 4 pokok. Model aplikasi ini memerlukan areal yang bisa dilalui kendaraan sampai ke dalam blok. Peralatan yang digunakan adalah unit kendaraan dump truk atau trailer, alat muat JJK di PKS (loader, exavator) atau hopper, angkong, gancu dan tenaga pengecer (8 – 12 HK/ha).

Masalah yang sering timbul dari model aplikasi manual dan kombinasi mekanis-manual diantaranya adalah seringnya restan JJK di PKS maupun di lapangan dalam jumlah banyak. Tingginya restan JJK di PKS biasanya disebabkan oleh tidak adanya alat muat yang khusus atau kalau pun ada dalam posisi rusak, hopper rusak, armada pengangkut kurang dan faktor cuaca (hujan). Sedangkan tingginya restan JJK di lapangan (blok) disebabkan oleh kurangnya tenaga aplikasi, tidak memiliki tim khusus, pengiriman JJK berlebih, ancak tidak ideal, prestasi aplikasi rndah dan faktor cuaca (hujan).

Masalah lainnya dari aplikasi JJK secara manual adalah kualitas aplikasi tidak seragam dan sering dijumpai JJK dibuang disembarang tempat. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman pengemudi angkutan terhadap pentingnya JJK, kondisi jalan ke blok aplikasi tidak bisa dilalui, tidak memiliki mandor transport khusus JJK yang mengarahkan pengangkutan.

Restan JJK yang menggunung di lokasi PKS dalam waktu lama berdampak buruk pada lingkungan yaitu timbulnya lindi atau air rembesan dari tumpukan janjang kosong terutama pda sat musim hujan yang akan mencemari air permukaan, rawan kebakaran, dan mengganggu operasional PKS.


JJK Diabukan di Incinerator

Pengelolaan JJK dengan cara dibakar di incinerator merupakan pengelolaan yang kurang populer untuk saat ini, karena menimbulkan emisi gas buang yang dapat mencemari udara. Hal ini kurang sejalan dengan program langit biru yang telah dicanangkan pemerintah melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-15/MENLH/4/1996. Program Langit Biru ini adalah suatu program pengendalian pencemaran udara dari kegiatan sumber bergerak maupun sumber tidak brgerak. Tujuannya adalah terkendalinya pencemaran udara agar tercipta kualitas udara ambien yang diperlukan untuk kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya.

Walaupun demikian tidak ada larangan untuk melakukan pembakaran JJK di incineraor. Prinsipnya sama dengan boiler yang mengunakan bahan bakar serat dan cangkang. Yang diatur adalah emisi gas buangnya tidak boleh melebihi baku mutu yang telah ditetapkan. Baku mutu emisi gas buang dari sumber tidak bergerak bagi ketel uap dan lebih spesifik lagi yang menggunakan bahan bakar biomassa berupa serabut dan cangkang diataru dalam PerMen LH Nomor 07 Tahun 2007 Lampiran I.

Apa bila ingin melakukan pengelolaan JJK dengan cara diabukan diincinerator maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu Incinerator harus dilengkapi dengan alat penangkap debu atau Dust Collector, agar emisi gas buang terutama partikulatnya tidak melebihi baku mutu. Incinerator harus dilengkapai dengan lubang sampling dan tangga sampling untuk memantau emisinya seperti pada Gambar 1. Melakukan pemantauan emisi gas buang dari incinerator sekikitnya 6 bulan satu kali, dan hasilnya dilaporkan ke instansi yang berwenang (BAPEDAL).

Pengelolaan selanjutnya adalah terhadap abu janjang. Abu janjang dapat digunakan sebagai pupuk penganti MOP. Abu janjang bisa digunakan untuk kalangan sendiri maupun dijual ke pihak ke tiga atau masyarakat.

Karena abu janjang bersifat higroskofis dan pH tinggi (bersifat korosif), maka perlu penanganan yang baik yaitu :
Abu janjang selama di PKS maupun di gudang harus selalu kering
Sebelum dikemas abu janjang harus disaring terlebih dahulu untuk memisahkan arang/bonggol JJK maupun kerak abu yang kasar.
Pada saat aplikasi, karyawan penabur harus dilengkapi dengan masker dan sarung tangan untuk mencegah eefek buruk dari abu janjang
Penaburan abu janjang diutamakan ke lahan gambut yang memiliki nilai pH rendah, dan ditabur diluar piringan untuk menghindari kontak langsung dengan pupuk N.



JJK Dijual ke Pihak ke Tiga

Dewasa ini banyak PKS-PKS yang tidak punya kebun maupun yang punya kebun menjual JJK ke pihak ke tiga baik ke perorangan dalam partai kecil (cash and carry) maupun dalam bentuk kontrak. JJK tersebut oleh masyarakat kebanyakan untuk digunakan untuk pupuk pada tanaman kelapa sawit mereka. Masyarakat sudah mengetahui kalau JJK bisa menggantikan pupuk anorganik. Pada saat harga pupuk anorganik melambung tinggi dan susah didapat di pasaran, masyarakat membeli JJK sebagai pengganti pupuk anorganik. Sebagai contoh hal ini terjadi di daerah Bagan Batu – Riau. Penjualan JJK dalam bentuk kontrak kerjasama dengan pihak ke tiga juga dilakukan oleh salah satu PKS di Kabupaten Muara Enim – Sumatera Selatan.
Pengelolaan JJK dengan cara di dijual ke pihak ketiga memang tidak bisa sepenuhnya diandalkan, karena kontinuitas dari sistem pengangkutan yang tidak menjamin. Namun demikian hal ini mengingatkan kepada kita betapa banyak orang di luar perusahaan yang membutuhkan JJK untuk keperluan pemupukan di lahan kelapa sawitnya.

4 komentar:

Irwansyah Daulay mengatakan...

Halo pak,

Saya sangat tertarik dengan tulisan bapak. Kalo di PTPN tankos gak dibakar dan kadang-kadang di buang ke lahan. Kalo kita mau buat incenerator sendiri buat abu janjang. apa boleh oleh pemerintah?
Mohon info pencerahan...

santobri mengatakan...

Pak irwansyah Daulay, Tankos dibakar di tungku bakar (incinerator) tidak ada aturan yang melarang, asal emisi gas buang dari cerobongnya memenuhi baku mutu lingkungan. Namun demikian, pengelolaan tankos dengan cara dibakar memang saat ini kurang populer, karena dianggap menimbulkan pencemaran udara dan menghasilkan gas rumah kaca (CO2). Pengelolaan yang paling bijak adalah dengan cara diaplikasikan langsung ke lahan kelapa sawit atau dikomposkan terlebih dahulu, tergantung situasi dan kondisi lahan di perkebunan itu. Terimakasih. Salam Hijau

suburs burs mengatakan...

dimana saya bisa dapatkan abu janjang kelapasawit di pekanbaru?
mohon infonya

Vincent Lim mengatakan...

@suburs burs,
Saya menyediakan janjangan kosong aka tandan kosong utk wilayah sumatera utara dan riau, sekedar membantu bagi yg mencari dan mengetahui lebih lanjut tentang janjangan kosong info ke Vincentlimvinci@yahoo.com.